Ayo jadi reseller, dropship, dan grosir produk kami. MENGUNTUNGKAN

Cerpen Terpopuler – Bunga Pembawa Aroma Misterius

Tuesday, January 10th 2017.

Ingatan tentang hari pertama masuk Sekolah Menengah Pertama masih segar di kepalaku. Hari itu aku mengenakan kemeja berwarna putih dan rok biru SMP untuk pertama kalinya. Nama, Bunga Arum, tertulis besar di kertas HVS berwarna putih berukuran 30×15 cm yang tergantung di dadaku.

“Bahagianya! Setelah enam tahun datang dan bertemu orang yang sama, akhirnya aku bisa menemukan tempat dan teman baru,” kataku saat memasuki pintu gerbang sambil menuntun sepedaku yang berwarna pink.

Bunga Pembawa Aroma Misterius

Aku menebarkan senyum ke segala arah layaknya aku sedang ikut kontes kecantikan. Semoga saja pagi tu tidak ada cabe yang menempel di gigiku. Aku tidak sempat berkaca karena terlalu bersemangat.

Saat sampai di tempat parkir, ada banyak sekali murid di sana. Tidak satu pun yang aku kenal. Maklum saja,aku menjadi satu-satunya murid dari SD Mawar yang diterima di SMP Negeri 2.

Tepat pukul 06.45, suara nyanyian pertanda masuk kelas berbunyi. Karena masih siswa baru, aku belum tahu di mana ruang kelasku. Daripada sok tahu lalu berujung malu, aku ikuti saja beberapa siswi yang juga memajang nama di kertas HVS. Pagi itu aku dan seluruh siswa, guru, dan karyawan di SMP Negeri 2 berkumpul di lapangan. Ada upacara penyambutan siswa baru.

“Senangnya! Baru kali ini ada yang menyambut aku,” bisikku dalam hari sambil nyengir sendiri.

Di lapangan sudah ada beberapa kakak kelas. Masing-masing membawa kertas putih yang bertulisan kelas 7 A hingga 7F. Aku ingat bahwa aku adalah murid kelas 7D. Aku menghampiri si kakak yang dari kejauhan saja sudah membuat aku kena serangan jantung.

“Duh….gantengnya. Nutrisi di pagi hari,” kataku pada diri sendiri.

Aku langsung masuk ke barisan dan berhenti gagal fokus karena upacara segera dimulai. Bahkan, aku tidak sempat berkenalan dengan satu orang pun.

Meski sangat bersemangat dan senang, ada satu hal yang tidak kusukai pagi itu. Matahari bersinar sangat terik. Rasanya baju seragamku bisa diperas karena banyaknya keringat yang mengucur. Pidato Kepala Sekolah juga tidak kunjung usai. Padahal sudah ada beberapa siswa baru yang jatuh pingsan.

“Wah…kalau aku pingsan si kakak ganteng mau gendong aku nggak ya,” aku mulai berimajinasi dengan liarnya.

Sayang seribu sayang, imajinasi itu gagal total. Belum jadi pingsan, upacar sudah dibubarkan. Siswa baru diminta untuk masuk ke aula dan mengikuti Masa Orientasi Siswa alias MOS. Dengan keringat yang sudah membanjir dan wajah kucel, aku melangkah menuju aula sekolah. Di dalam ruangan ternyata sudah disedikan kursi dan sudah ada si kakak ganteng lagi di sana. Dia masih setia membawa kertas bertuliskan “7D” di tangannya.

“Sama kertas aja setia, apalagi kalo sama…. ahhh sudahlah!” kataku dalam hati.

Karena kursi barisan depan sudah penuh, aku duduk di barisan tengah. Setelah meletakkan tas di lantai dan duduk dengan nyaman, aku mengulurkan tangan kepada orang-orang di samping kanan, depan dan belakangku. Kami saling menyebutkan nama. Sebenarnya itu hanya formalitas saja, toh nama sudah terpajang dengan jelas dan besar di papan nama raksasa yang menggantung di dada kami.

Awalnya semua baik-baik saja, hingga akhirnya bencana dimulai.

“Kok ada bau-bau nggak enak gini ya. Apaan sih ini? Kayak sampah” ujar Budi yang duduk di belakangku.

“Iya ya. Aku juga udah dari tadi nyium bau ini. Jangan-jangan ada yang nggak mandi ya?” tambah Vita.

“Ha? Masak sih?,” jawabku dengan wajah penasaran.

“Kok kayaknya baunya dari deket sini ya,” kata Vita sambil mengendus ke dekat tubuhku.

“Bikin nggak konsen aja nih,” tambah Vita.

Saat itu aku benar-benar tidak tahu dari mana asal mau busuk yang menyengat dan mengganggu mereka itu. Hingga MOS hari pertama berakhir, tidak ada jawaban mengenai bau misterius itu. Mereka hanya menutup hidung beberapa kali.

Keesokan harinya, siswa baru kembali ke tempat yang sama. Sudah ada kakak ganteng di aula saat aku tiba di sana. Aku beranikan diri untuk menyapanya.

“Pagi Kak Alex,” sapaku sambil tersenyum dan sudah kupastikan tidak ada sayuran hijau atau cabe yang menempel di gigiku. Hari itu aku sikat gigi setelah sarapan dan berkaca sebelum keluar pintu rumah.

“Pagi,” jawabnya singkat dan wajahnya datar.

Aku duduk di kursi yang sama seperti kemarin. Baru ada sekitar 10 siswa kelas 7D yang datang saat aku duduk. Beberapa menit kemudian, Vita datang. Aku menyapanya. Dia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Aku menduga. Wajahnya pagi itu tertutupi masker berwarna hijau. Saat aku bertanya kenapa dia pakai masker, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Aku tidak mau memaksa. sakit mungkin, aku mengira-ngira saja.

Ruangan semakin penuh dan MOS hari kedua akan segera dimulai. Lagi-lagi ada keributan lagi tentang aroma tidak sedap. Aku masih belum paham. Selama tiga hari MOS, aroma misterius itu terus jadi perbincangan. Dan, entah mengapa tidak ada orang yang mau saat aku ajak makan bersama. Awalnya aku pikir memang mereka sudah kenyang. Hingga akhirnya di hari keempat aku sekolah atau di hari pertama proses belajar mengejar aku tahu sesuatu.

Saat itu masih jam pelajaran pertama. Guru Matematika masuk ke ruang kelas lalu memperkenalkan diri. Setiap siswa juga diminta untuk memperkenalkan diri. Tiba giliranku.

“Selamat pagi. Namanya saya Bunga Arum, biasa dipanggil Bunga.”

“Sayang namanya nggak sesuai dengan faktanya,” celetuk seorang murid yang duduk di pojok belakang.

Namanya adalah Arif.

“Hush… Apa maksudnya? Tidak boleh bicara sembarangan. Setiap orangtua memberi nama anaknya tentu ada makan dan alasannya. Sudah jangan dipikirkan ya Bunga. Silahkan duduk lagi,” jawab Pak Guru.

Setelah celetukan itu, aku mulai berfikir keras mengenai apa maksud ucapan si Arif. Seminggu berlalu, aku masih tidak punya teman. Aku selalu sendirian. Setiap kali aku mendekat, teman sekelasku selalu menghindar. Aku terus berfikir mengenai apa salahku.

Hingga suatu siang, aku dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling (BK). Rasanya tentu tidak karuan karena aku takut kena marah atau sanksi. Padahal aku merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa. Pikiranku sudah berimajinasi kemana mana. Aku mengetuk pintu ruang BK dengan pelan.

“Oh…Bunga ya? Silahkan duduk,” pinta Bu Prapti.

“Nggak usah takut. Ibu cuma mau tanya tapi Bunga jangan tersinggung ya,” ungkap beliau dengan sangat lemah lembut.

“Iya Bu. Tentang apa ya?”

“Jadi begini. Ibu mendengar teman-teman memiliki keluhan. Menurut beberapa teman di kelas 7D, Bunga kadang membuat mereka tidak nyaman. Bunga tahu tidak alasannya?”

“Maaf Bu! Saya kurang tahu,” jawabku sambil menunduk.

“Sekali lagi Ibu minta maaf sekali ya. Memangnya benar Bunga mengalami masalah, maaf, bau badan?”

Aku terdiam saat itu. Aku tertunduk lesu. Ada campuran antara bingung, marah, malu, dan sedih.

“Tidak apa-apa. Ibu tidak akan marah atau mengolok-olok. Kalau memang iya, Ibu justru mau memberi solusi.”

“Tidak usah malu Bunga. Dulu ibu juga mengalami hal yang sama lho. Ibu sering diolok-olok teman teman di kampung dan di sekolah. Sampai Ibu pernah bolos tiga hari karena malu,” tambah Ibu Prapti.

“Se…se…benarnya. Sa..sa..saya malah tidak tahu Bu kalau aroma tidak sedap di kelas yang dimaksud teman-teman adalah saya. Setiap pagi saya sudah mandi dan memakai bedak. Sayangnya, saya tidak mampu membeli parfum. Kata Ibu lebih baik uangnya buat uang saku daripada dibelikan parfum,” jawabku dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca.

“Ya sudah. Tidak apa-apa. Sekali lagi kamu jangan tersinggung ya. Ibu harap kamu mau menerima ini,” kata Ibu Prapti sambil menyodorkan kotak parfum Chane Eau De Miniatur.

“Bukan maksud gimana-gimana. Ibu hanya ingin membantu saja. Ini demi kebaikan kamu dan teman-teman satu kelas. Kamu tentu tidak mau dijauhi teman satu kelas hanya karena masalah ini bukan?”

“Iya Bu!”

“Ini ada lima. Ada berbagai macam aroma yang bisa kamu pilih. Wanginya awet sampai 16 jam. Anak Ibu juga pakai ini.”

“Iya. Terima kasih banyak Bu atas bantuannya. Terima kasih sekali.”

“Sama-sama. Semoga bermanfaat ya. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas.”

Produk terbaru

New
Rp 114.900 150.000
Order Sekarang » SMS : 0852 8820 2838
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode23194
Nama BarangJUAL HOODIE COUPLE ROUNDS BLACK TERMURAH
Harga Rp 114.900 150.000
Anda HematRp 35.100 (23.40%)
Lihat Detail
Stok : 12
New
Rp 89.000 150.000
Order Sekarang » SMS : 0852 8820 2838
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeKCB301
Nama BarangJUAL KAOS COUPLE LP BLOCK COMBI TERMURAH
Harga Rp 89.000 150.000
Anda HematRp 61.000 (40.67%)
Lihat Detail
Stok : 6
New
Rp 114.900
Order Sekarang » SMS : 0852 8820 2838
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeCLX302
Nama BarangJUAL SWEATER COUPLE LISTE BLUE TERMURAH
Harga Rp 114.900
Lihat Detail
Stok : 6
New
Rp 99.000 150.000
Order Sekarang » SMS : 0852 8820 2838
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeSAW201
Nama BarangJUAL SWEATER PRIA ALAN WALKER KOMBI TERLARIS
Harga Rp 99.000 150.000
Anda HematRp 51.000 (34.00%)
Lihat Detail
Stok : 6
New
Rp 110.000 200.000
Order Sekarang » SMS : 0852 8820 2838
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeJPK201
Nama BarangJUAL JAKET PRIA ZIPPER VARSIT TERLARIS
Harga Rp 110.000 200.000
Anda HematRp 90.000 (45.00%)
Lihat Detail
Stok : 6
New
Rp 99.000 150.000
Order Sekarang » SMS : 0852 8820 2838
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeSPT201
Nama BarangJUAL SWEATER PRIA SKULL FULL PRINT TERLARIS
Harga Rp 99.000 150.000
Anda HematRp 51.000 (34.00%)
Lihat Detail
Stok : 12
New
Rp 99.000 150.000
Order Sekarang » SMS : 0852 8820 2838
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeSAW201
Nama BarangJUAL SWEATER PRIA ALAN WALKER TERLARIS
Harga Rp 99.000 150.000
Anda HematRp 51.000 (34.00%)
Lihat Detail
Stok : 6
New
Rp 74.900 100.000
Order Sekarang » SMS : 0852 8820 2838
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode22758
Nama BarangJUAL SETELAN COUPLE EGG LOVE YOU TERMURAH
Harga Rp 74.900 100.000
Anda HematRp 25.100 (25.10%)
Lihat Detail
Stok : 8